Friday, July 11, 2008

Surat Cinta Imam Khomeini. :)

Surat Cinta Imam Khomeini (Sewaktu Muda) Kepada Isterinya



(Surat cinta Imam Khomeini ini menampakkan sisi lain seorang pemimpin umat Islam. Sebagai tokoh revolusi Islam Iran, orang yang mempelopori slogan Maut Ke Atas Amerika dan Israel, ulama yang mengeluarkan fatwa mati ke atas Salman Rushdie, serta penentang regim tirani Shah; surat Imam Khomeini sewaktu beliau masih muda belia kepada isterinya ini sungguh menarik. Meskipun bersifat peribadi ia ternyata memiliki nilai sastera yang tinggi. Dan seperti mana tema blog ini, ia menampilkan rasa cinta yang luar biasa sekali. * Foto Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini ketika beliau berusia hujung 20an)

Kasihku…

Kupersembahkan jiwaku untukmu…

Saat ini, ketika aku diuji berpisah dari anak-anakku tersayang dan penguat hatiku, aku kemudian teringat padamu dan keindahan wajahmu yang terlukis di dalam cermin hatiku.

Kasihku…

Aku berharap semoga Allah senantiasa menjagamu dan memberikan kesihatan dan kebahagiaan dalam lindungan-Nya. Sementara untukku, segala kesulitan yang ada telah berlalu. Alhamdulillah apa yang terjadi sampai saat ini adalah kebaikan dan sekarang aku tengah berada di kota Beirut yang asri.[1]

Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu.

Malam ini adalah malam kedua aku menanti kapal yang akan membawa kami. Sesuai dengan ketentuan yang ada, keesokan hari akan ada kapal yang bertolak dari sini ke Jeddah. Sayangnya, karena kami agak terlambat sampai di sini, harus menanti kapal yang lain. Untuk saat ini apa yang harus dilakukan belum jelas. Aku berharap semoga Allah dengan belas kasih-Nya kepada datuk dan moyangku yang suci, sebagaimana Ia menjayakan perjalanan seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan haji, memberikan kesempatan yang sama pula kepada kami.

Dari sisi ini aku agak sedikit sedih dan gelisah, namun Alhamdulillah keadaanku sihat bahkan semakin baik dan lebih meyakinkan. Sebuah perjalanan yang indah, sayangnya dan sekali lagi sayangnya, engkau tidak bersamaku di sisiku. Hatiku merindukan puteramu (Sayyid Mustafa). Aku sangat berharap bahawa mereka berdua[2] senantiasa selamat dan bahagia di bawah lindungan dan bimbingan Allah swt.

Bila engkau menulis surat kepada ayahmu dan ibu serta nenekmu sampaikan salamku juga kepada mereka. Aku telah menyiapkan diriku menjadi pengganti ziarah kalian semua. Sampaikan juga salamku kepada adikmu Khanum Shams Afagh. Dan lewat adikmu sampaikan salamku kepada Agha Alavi. Sampaikan salamku kepada Khavar Sultan dan Rubabeh Sultan. Katakanlah kepada mereka tentang lembaran lain dari surat ini untuk disampaikan kepada Agha Syaikh Abdul Husein.

Semoga hari-hari kalian dilalui dengan panjang umur dan kemuliaan.

Duhai kasihku…

Belahan jiwaku…

Ruhullah saat ini bak gambar kosong yang sedang menanti keberangkatan yang tak kunjung datang.[3]

Nota: Surat ini ditulis pada bulan Farvardin tahun 1312 H.S. (menurut kalender Parsi, sekitar 73 tahun yang lalu) sambil Ayatullah Khomeini menanti kelahiran putera keduanya.


————————————————————————–

[1] Keberadaan beliau di sana untuk menanti kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Arab Saudi bagi melakukan ibadah haji.

[2] Kata berdua maksudnya kepada Sayyid Mustafa dan anak laki beliau yang lain yang sampai saat surat ini ditulis belum lahir ke dunia. Beberapa hari setelah Imam Khomeini menulis surat ini, anak kedua beliau lahir dan diberi nama Ali. Anak kedua Imam ini diserang penyakit semasa kecilnya lalu meninggal dunia.

[3] Menjelaskan akan ketiadaan kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Jeddah.

No comments: